Rabu, 09 Desember 2015

Jadikan Buah Lemon itu Minuman yang Manis

  Orang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda.
  Ketika Rasulullah SAW diusir dari Makkah, beliau memutuskan untuk menetap di Madinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah negara yang sangat akrab di telinga dan mata sejarah.
  Ahmad ibn Hanbal pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu Taimiyyah pernah dipenjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya. As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid. Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami’ul Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadits. Demikian halnya dengan Ibnul-Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan karena itu ia menguasai qiraah sab’ah. Malik ibn ar-Raib adalah penderita suatu penyakit yang mematikan, namun ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah dan tak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman Abbasiyah. Lalu ketika semua anak Abi Dzuaib al-Hudzali mati meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyian-nyanyian puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarnya kembali.
  Begitulah, ketika tertimpa suatu musibah, anda harus melihat sisi yang paling terang darinya. Ketika seseorang memberi anda segelas air lemon, anda perlu menambah sesendok gula ke dalamnya. Ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian tubuhnya yang lain. Ketika disengat kalajengking, ketahuilah bahwa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh anda dari bahaya bisa ular.
  Kendalikan diri anda dalam berbagai kesulitan yang anda hadapi! Dengan begitu, anda akan mempersembahkan bunga mawar dan melati yang harum kepada kami. Dan,

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. (QS. Al-Baqarah : 216)

  Sebelum terjadi revolusi besar di Perancis, konon negara itu pernah memenjara dua sastrawan terkenalnya. Salah seorang dari keduanya sangat optimistis dan yang seorang lagi pesimistis bahwa revolusi dan perubahan akan segera terjadi. Setiap hari keduanya sama-sama melongokkan kepala melalui sela-sela jeruji penjara. Hanya saja, sang sastrawan yang optimistis selalu memandang ke atas dan melihat bintang-bintang yang gemerlap di langit. Dan karena itu ia selalu tersenyum cerah. Adapun sastrawan yang pesimistis, ia selalu melihat ke arah bawah dan hanya melihat tanah hitam di depan penjara, dan kemudian menangis sedih.
  Begitulah, sebaiknya anda selalu melihat sisi lain dari kesedihan itu. Sebab, belum tentu semua itu menyedihkan, pasti ada kebaikan, secercah harapan, jalan keluar serta pahala.


Sumber : La Tahzan / Karya: Dr. ‘Aidh al-Qarni

Selasa, 08 Desember 2015

Dahsyatnya Masa Muda

  Masa muda identik dengan bermacam-macam godaan. Maka, anak muda yang berani memilih jalan sunyi; tekun menimba beragam ilmu, rajin bermunajat, tak peduli dengan sebutan gaul yang terpelesetkan, pastilah anak muda yang istimewa. Karena di tengah gempitanya masa muda, mereka mampu mengendalikan diri dengan aktivitas yang tak biasa, demi masa depan yang berharga.
  Pemuda punya potensi besar untuk perubahan. Raga yang bugar, energi yang prima, jiwa yang fresh, adalah modal yang sangat sayang jika disia-siakan dengan hal yang biasa. Masa ini tak akan terulang, usia terus berjalan. Ada banyak yang menyesali masa mudanya karena tak memanfaatkannya untuk meraih berbagai pencapaian yang hebat dan bersejarah.
  Maka marilah, bermimpi seindah mungkin. Jangan mau jadi anak muda yang biasa; biasa prestasinya, kontribusinya, kemandiriannya, tanggung jawabnya, peran sosialnya, nilai akademisnya, dan kreativitasnya. Tinggalkan jejak sehebat mungkin di masa muda. Yang bisa dikenang sejarah. Ada banyak yang lebih muda darimu yang prestasinya lebih hebat, manfaatnya lebih luas, ilmunya lebih tinggi, ibadahnya lebih tekun. Berlombalah, malulah, irilah dengan mereka.
  Maka sangat sesuai apabila tugas-tugas besar diamanahkan ke tangan para pemuda. Sejarah telah membuktikan betapa para pemuda telah mampu menyukseskan berbagai agenda besar serta mampu mewarnai dunia. Kalau kita perhatikan dalam sejarah perjuangan Rasulullah, ternyata Rasul memulai agenda dakwah beliau dengan target anak muda dan para pemimpin. Karena mereka inilah yang potensinya sangat dominan dalam memperluas jalan dakwah.
  Kita mengenal banyak tokoh muda yang turut mendampingi Rasulullah dalam berdakwah. Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, Zaid bin Harits, Bilal bin Rabbah, mereka yang termasuk Assabiqunal awwalun (orang-orang yang paling dulu masuk Islam), dan sahabat-sahabat yang lain. Begitu pula generasi sesudah mereka, juga menunjukkan prestasi yang luar biasa. Diantaranya khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau memerintah di masa usia yang masih sangat muda. Beliau hidup dengan sederhana dan mampu memimpin dengan keadilan yang luar biasa. Pada masa kepemimpinannya, umat Islam sangat makmur, bahkan muzakki (orang yang wajib mengeluarkan zakat) sangat sulit mencari orang miskin untuk menyalurkan zakat mereka. Bahkan diilustrasikan pada masa itu, dokter susah sekali mendapatkan rakyat yang sakit karena tidak ada yang sakit.
  Kita juga mengenal sosok Muhammad Al-Fatih yang di usia sangat muda, mampu memimpin pasukan perang dan berhasil menaklukkan Konstantinopel. Juga yang dilakukan oleh sultan muda legendaris Salahuddin Al-Ayyubi yang dengan keberanian dan keimanannya mampu mengalahkan tentara salib serta merebut Baitul Maqdis.
  Maka, betapa sayangnya jika saat ini, di negeri yang dimakmurkan oleh Allah ini, kita begitu santai menikmati masa muda kita. Kita mudah sekali terbuai oleh beragam aktivitas yang tak menghebatkan masa depan. Padahal, banyak tugas dan pekerjaan besar yang harusnya bisa kita perbuat dengan potensi yang kita miliki.
  Masa muda hanya sekali, manfaatkan dan optimalkan dengan sebaik mungkin. Karena masa ini takkan pernah kita ulangi lagi.


Sumber : My Life My Adventure / Karya: Ahmad Rifa’i Rif’an 

Senin, 07 Desember 2015

Bekerjalah, Dan Raihlah Harta yang Halal Saja (Bag.2-habis)

  Anda sudah tahu betapa mulianya bekerja itu. Dan betapa terhormatnya kedudukan orang yang mau bekerja, mau menjemput rezeki Allah. Dan anda juga sudah mengerti betapa mulianya derajat rezeki yang halal di mata Allah. Apapun jenis pekerjaan anda asalkan halal, Allah pasti menghargainya. Yang penting dari keringat dan jerih payah anda sendiri. Yang penting anda tidak mengemis. Simak sabda Rasulullah berikut yang diriwayatkan Imam Bukhari,

Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang memakan makanan, selain memakan dari hasil kerja kedua tangannya. Sungguh nabi Allah, Daud, makan dari hasil kedua tangannya.

  Sesungguhnya hadits di atas mengatakan bahwa cara yang paling terpuji untuk menjemput rezeki adalah melalui pekerjaan tangan, melalui jerih payah sendiri. Bahkan nabi Daud AS menjemput rezeki dengan membuat baju besi kemudian menjualnya. Dan nabi Zakariya AS menjemput rezeki dengan menjadi tukang kayu. Zakariya AS adalah nabi yang mulia. Dialah yang memelihara ibunda Nabi Isa AS, Maryam. Orang semulia beliau, untuk menghidupi diri dan keluarganya, ternyata tidak gengsi menjadi tukang kayu.
  Pada kenyataannya, Nabi Muhammad SAW mencari nafkah dengan kedua tangannya. Beliau melakukan perdagangan kemana-mana. Dalam sebuah riwayat Imam Bukhari, suatu ketika beliau bersabda, “Allah tidak mengutus para nabi, melainkan dia adalah seorang penggembala domba.”
Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Ya, aku dulu seorang penggembala domba orang-orang Makkah dan diberi imbalan beberapa qararit (yaitu lempengan-lempengan tembaga yang sedikit jumlahnya).”
Rasulullah saja tidak malu mengatakan pada para sahabatnya, bahwa beliau dulunya seorang penggembala yang bergaji sedikit.
  Sekarang mungkin anda sudah yakin dengan kemuliaan bekerja. Dan setelah yakin yang perlu anda ingat kembali adalah tentang kehalalan rezeki sebagai hasil dari pekerjaan anda. Dalam hal ini ada 2 aspek; pertama, berkaitan dengan proses pencarian rezeki yang halal, dan itu berarti soal pekerjaan anda. Yang kedua, memastikan pembelanjaannya hanya untuk barang-barang yang halal saja, sehingga apa yang dimakan, diminum, dan dipakai itu suci.
  Ketahuilah, Rasulullah itu sangat berhati-hati terhadap apa yang beliau makan. Beliau selalu memastikan bahwa setiap bulir makanannya itu halal 100%. Simaklah sabdanya,

Kadang-kadang aku pulang ke keluargaku di rumah, dan aku menemukan sebiji buah kurma terjatuh ke atas tempat tidurku, maka aku mengambilnya untuk kumakan, akan tetapi kemudian aku takut mungkin itu dari sedekah, maka aku lempar buah itu. (HR. Bukhari-Muslim)

  Dalam kesempatan lain, beliau tidak dapat tidur semalaman, miring kesana kemari. Sehingga istrinya bertanya,

“Wahai Rasulullah, mengapa engkau terjaga semalaman, miring kesana-sini?”
Beliau menjawab, “Aku menemukan sebiji buah kurma di tempat tidur ini tadi malam dan memakannya. Kemudian aku teringat bahwa kita memiliki (di rumah kita) beberapa biji buah kurma untuk disedekahkan. Maka aku takut bahwa kurma yang aku makan itu adalah salah satu dari kurma-kurma yang akan kita sedekahkan itu.” (HR. Ahmad)

  Subhanallah! Rasulullah memakan sebuah kurma di tempat tidurnya sendiri, miliknya sendiri, hanya saja beliau takut bahwa kurma yang dimakannya itu termasuk dari gerombolan kurmanya yang sudah diniatkannya untuk disedekahkan pada fakir-miskin. Dan hal itu membuat beliau tidak bisa tidur semalaman. Beliau takut kalau-kalau kurma yang dimakannya itu “tidak halal” karena sesungguhnya telah menjadi hak kaum fakir-miskin. Hal itu menegaskan betapa pentingnya kehati-hatian untuk memakan rezeki yang benar-benar halal.
  Para sahabat juga berhati-hati sekali dalam menjemput rezeki Allah. Suatu ketika seorang pelayan Abu Bakar datang membawa banyak makanan dan Abu Bakar memakannya. Pelayan itu kemudian bertanya,
“Apakah anda tahu dari mana makanan ini berasal?”
Beliau balik bertanya, “Dari mana?”
Pelayan itu menjawab, “Pada zaman jahiliyah aku meramal nasib orang, padahal aku bukan peramal (ahli nujum), aku melakukannya untuk menipu orang lain. Jadi aku dibayar dan diberi makanan yang kaumakan!”
  Mendengar hal itu, Abu Bakar langsung memasukan tangannya ke mulut dan memuntahkan makanan itu dengan paksa hingga habis tak bersisa.
  Peristiwa serupa terjadi pada Umar bin Khaththab. Pagi itu ia diberi susu oleh pelayannya yang kemudian diketahui bahwa susu itu berasal dari unta yang akan disedekahkan. Umar pun mati-matian memuntahkan susu yang telah diminumnya.
  Sesungguhnya yang dijelaskan diatas menunjukkan betapa pentingnya menjemput rezeki (bekerja) yang halal dan membelanjakan hasil kerja itu dengan halal pula. Semuanya menunjukkan betapa pentingnya memakan harta halal. Karena dengannya ridha Allah bisa turun, do’a bisa makbul, dan rezeki semakin berkah nan melimpah. Amin.


Sumber : Rasulullah’s Business School / Karya: Kang Monif, PHD & Prof. Laode, PHD





Minggu, 06 Desember 2015

Bekerjalah, Dan Raihlah Harta Yang Halal Saja (Bag.1)

  “Aku tidak memasukkan secuil pun makanan ke dalam mulutku, kecuali aku tahu dari mana makanan itu berasal dan dari mana ia keluar.” Itulah kata dahsyat yang menunjukkan kualitas kepribadian sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas. Jelas sekali perkataannya, ia tidak makan apapun selain tahu benar kualitas kehalalannya. Dari mana makanan itu diperoleh, atau dari mana makanan itu dihasilkan dan bagaimana pula membelanjakannya. Itu menunjukkan sebuah pelajaran ketelitian, keterusterangan, transparansi, kejujuran dan kredibilitas tingkat tinggi.
   Luar biasa sekali. Untuk meraih rezeki, harta, uang, atau kekayaan yang halal, kita butuh seperangkat itu semua. Kalau saja saat itu sudah ada bahasa modern, pastilah Sa’ad akan berkata lantang, “Aku tidak akan memakan harta secuil pun, sebelum harta itu diaudit keabsahannya. Apakah ia terindikasi korupsi atau tidak.”
  Di zaman generasi-generasi awal, Sa’ad itu terkenal karena do’anya yang sangat mustajab. Setiap do’anya selalu dikabulkan Allah. Dia minta hujan, tak selang lama hujan diturunkan. Dia minta kesembuhan seorang sahabat lain , tak selang lama kesembuhan itu datang, dia minta apa saja selalu dikabulkan Allah. Subhanallah! Tersebutlah seorang sahabat yang memberanikan diri bertanya kepadanya,
“Wahai Sa’ad, bolehkah aku bertanya kepadamu?” kata sahabat tadi.
“Apa yang ingin kautanyakan? Aku tidak keberatan” jawab Sa’ad.
“Mengapa do’a-do’amu lebih dikabulkan Allah di antara para sahabat yang lain?”
“Aku tidak memasukkan secuil pun makanan ke dalam mulutku kecuali aku tahu dari mana makanan itu berasal dan dari mana ia keluar,” jawab Sa’ad serius.
  Maha Suci Allah yang selalu mengabulkan do’a hambanya yang menjaga rezeki yang halal.
  Tak diragukan lagi, salah satu kewajiban seorang muslim yaitu mencari nafkah yang suci dan halal untuk diri, keluarga dan umatnya, sabda Rasulullah yang diriwayatkan Abu Hurairah,

Duhai umatku! Allah itu Maha Suci (al-Tayyib) dan Dia tidak menerima kecuali hanya yang suci! Allah telah menyuruh orang-orang beriman agar mengerjakan apa-apa yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul-Nya. Dia berfirman, ‘Wahai para Rasul! Makanlah dari makanan yang suci dan berbuat baiklah!’ Dan juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari makanan yang halal lagi suci yang telah Kami berikan kepadamu’.

  Beliau berfatwa saat kondisi perniagaan dan transaksi perekonomian sedang dikepung ketidakjujuran, penipuan gampang sekali dilakukan. Ibarat kata, sulit sekali menjemput rezeki yang halal. Luar biasa godaan mencari harta halal saat itu. Dan hasilnya, sesosok sahabat sekualitas Sa’ad bin Abi Waqqas. Meski susah mencari harta halal, ia tak gentar kelaparan. Baginya, lebih baik mati daripada memakan rezeki yang tidak berkah, rezeki yang tidak halal, rezeki yang haram.
 
  Hati-hatilah! Sesungguhnya memakan harta haram itu mengakibatkan do’a, permohonan, atau permintaan anda tidak dikabulkan Tuhan. Dalam hadits riwayat At-Tirmidzi, Imam Muslim, dan Imam Ahmad dikatakan :

Suatu hari Rasulullah menyebut tentang seorang musafir yang pakaiannya kumal, compang-camping dan berdebu. Musafir itu berdo’a kepada Allah. Ia tengadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata, ‘Duhai Allah Tuhanku! Wahai Engkau yang Maha Pemberi Rezeki...’
Lanjut Rasulullah, musafir itu berdo’a sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia makan dari nafkah yang haram, bagaimana do’anya bisa dikabulkan?

  Cerita Rasulullah tersebut menekankan bahwasanya penghidupan musafir tadi tidak suci dengan memerinci makanan, pakaian, minuman, dan nafkahnya. Semuanya ia peroleh dari cara yang tidak suci.
  Kita semua, bahkan para nabi sekalipun, diperintahkan menjemput rezeki yang halalan tayyibaa (halal lagi baik/suci). Sementara halal lagi baik/suci bisa diperoleh ketika kita mencari nafkah dengan cara yang baik/suci dan membelanjakannya pun dengan baik/suci. Jadi, jika anda membeli makanan yang baik/suci tetapi dengan uang hasil curian, maka makanan itu tidak halal hukumnya. Begitu pula sebaliknya, jika anda mencari uang dengan cara yang baik/suci, tapi kemudian membelanjakannya untuk mengonsumsi barang haram, maka hal ini juga termasuk jenis yang haram.
  Sebuah hadits lain yang diriwayatkan Imam Bukhari menegaskan peringatan di atas:

Barangsiapa bersedekah dengan biji kurma dari hartanya yang suci, niscaya Allah akan menerimanya dengan tangan kanan, dan Dia akan memberi makan keluarganya karena sedekahnya itu, seperti kalian memberi makan kuda kalian sehingga ia menjadi seperti gunung.

  Jadi, sedekah yang diberikan dari harta yang tidak suci, tidak akan diterima oleh Allah walau sebanyak apapun. Sedangkan sedekah yang diberikan dari penghasilan yang suci, akan diterima Allah walaupun cuma sebesar biji kurma.
  Tak hanya itu, Rasulullah dengan sendirinya juga mewajibkan kita untuk bekerja. Mencari makan sendiri. Mencari nafkah sendiri. Tidak parasit. Tidak menggantungkan nasib pada orang lain. Jangan mengemis dan meminta-minta. Bekerjalah sekeras-kerasnya, secerdas-cerdasnya, sebaik-baiknya, sesuci-sucinya, dan sehalal-halalnya! Itulah spirit utama yang hendak dikatakan Rasulullah. Bekerja sendiri itu diwajibkan karena hal itu merupakan salah satu cara terbaik bagi seseorang untuk memastikan kesucian penghasilannya.
  Umar bin Khaththab berkata, “Aku menjumpai seseorang yang membuatku kagum, dan aku bertanya, ‘Apakah ia mempunyai pekerjaan (untuk mencari nafkah)?’ Jika saja mereka berkata, ‘Tidak,’ maka ia turun dari pandanganku (dan aku tidak menghormatinya).”
  Sungguh, jika anda mengaku umat Rasulullah, tapi anda masih mengemis-ngemis, meminta-minta, dengan cara apa saja, halus atau kasar, maka menangislah. Karena sia-sia saja keislaman anda. Karena Rasulullah pasti memalingkan mukanya dari anda. Karena para sahabat Rasulullah yang sudah dijamin masuk surga pasti tak sudi bertemu anda.
  Bekerjalah dan jangan mengganggu orang lain. Bekerjalah dan jangan memberatkan orang lain. Bekerja apa saja asal halal. Sebab, kerja merupakan sesuatu yang diwajibkan bagi manusia. Bekerja itu sesuai dengan kodrat anda sekaligus menjadi cara anda memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Bekerjalah! Karena bekerja merupakan cara utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bekejalah! Karena Islam mewajibkan semua orang supaya berusaha sungguh-sungguh menguasai pekerjaannya. Bekerjalah! Karena bekerja merupakan sumber rezeki.
  Bekerjalah dan rajinlah anda bekerja! Karena dengan bekerja anda bisa menikmati kehidupan duniawi serta menginfakkan sebagian harta yang anda hasilkan di jalan Allah. Bekerjalah! Karena dengan bekerja harkat dan martabat anda akan terangkat. Bekerjalah! Karena tak ada gadis yang sudi menikah dengan lelaki pemalas, yang hanya menggantungkan nasibnya pada orang lain. Bekerjalah! Karena bekerja itu diwajibkan oleh agama. Dan bagi anda yang beriman, bekerjalah! Karena bekerja itu bernilai ibadah. Bekerja! Karena Allah pasti mengganjarnya. 
  Tidak sedikit ayat-ayat yang mengisyaratkan kerja berkenaan dengan eksistensi manusia. Simaklah firman Allah berikut:

Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka dirugikan. (QS. Al-Ahqaaf : 19)

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, supaya Kami menguji, manakah diantara kamu sekalian orang yang lebih baik amal/pekerjaannya. (QS. Al-Kahfi : 7)

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasulnya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At-Taubah : 105)

  Ayat-ayat di atas mengisyaratkan pada kita semua, pada anda, bahwa pekerjaan anda atau bagaimana anda bekerja, itulah yang menentukan eksistensi anda di hadapan Allah, Rasulullah, dan umat yang beriman. Hal ini senada dengan sistem ajaran al-Qur’an yang lain, yang menegaskan bahwa manusia tidak akan memperoleh sesuatu kecuali yang ia usahakan sendiri. Kata Allah:

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS. An-Najm : 39)

  Karena itu, semestinya anda tidak memandang enteng, apalagi menyepelekan, terhadap bentuk-bentuk kerja yang anda lakukan. Dan karena itulah, anda tidak boleh tidak, harus bekerja alias hidup mandiri, tidak meminta-minta. Anda tidak boleh hidup dengan menggantungkan uluran tangan orang lain. Anda harus bekerja dan memberi makna pada pekerjaan anda. Karena sesungguhnya bekerja merupakan bagian integral tak terpisahkan dari makna hidup anda yang lebih otentik: ubudiyah-mu’amalah.
  Dengan bekerja, otomatis anda membangun kepribadian anda dalam rangka memperoleh peran kemanusiaan anda. Dengan bekerja, anda bisa membuat media untuk mengembangkan pribadi dan kreativitas anda secara optimal, dengan cara membuka usaha, atau dengan cara menciptakan serta memperluas lapangan pekerjaan. Dan dengan bekerja, anda bisa menyalurkan seluruh energi positif yang bermuatan cahaya Ilahi untuk terus menggapai ridha dan rahmat-Nya.
  Yakinlah, bahwa anda bisa bekerja sesuai kemampuan anda, sesuai skill atau keahlian anda, sesuai bakat minat anda. Jangan mempersulit diri. Dan yakinlah Allah bersama anda.

Katakanlah: “tiap-tiap orang berbuat menurut syakilah (bakat)-nya masing-masing...” (QS. Al-Israa : 84)

  Ingatlah, bahwa Rasulullah juga pernah menerangkan, bahwa masing-masing orang dimudahkan untuk mengerjakan sesuatu yang ia ciptakan sendiri. Ingatlah, bahwa kerja merupakan cara alami untuk mempertahankan penghidupan anda. Ingatlah, bahwa setiap pekerjaan anda sesungguhnya kembali pada diri anda sendiri, hanya untuk diri anda sendiri, bukan orang lain.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. (QS. Al-Israa : 7)

  Muhammad Farid Wajdiy dalam bukunya Muhimmatul Islaam fil ‘Aalam menjelaskan, sesungguhnya jika kita teliti, manakala Allah menyebut perkataan, alladziina aamanuu (orang-orang yang beriman) dalam ayat-ayat al-Qur’an, Allah selalu menyambungnya dengan wa’amilush-shaalihaat (perbuatan/pekerjaan yang baik). Hal itu menunjukkan bahwa iman harus disertai amal saleh atau pekerjaan yang baik. Amal saleh dalam kehidupan nyata adalah penjelmaan dari iman. Iman yang tak disertai amal saleh dapat disebut iman yang mandul.


BERSAMBUNG...

Sabtu, 05 Desember 2015

Pikirkan dan Syukurilah

  Artinya, ingatlah setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada anda. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki.

Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya. (QS. Ibrahim : 34)

  Kesehatan badan, keamanan negara, sandang pangan, udara dan air, semuanya tersedia dalam hidup kita. Namun begitulah, anda memiliki dunia tetapi tidak pernah menyadarinya. Anda menguasai kehidupan tetapi tak pernah mengetahuinya.

Dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin. (QS. Luqman : 20)

  Anda memiliki dua mata, satu lidah, dua bibir, dua tangan dan dua kaki.

Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman : 13)

  Apakah anda mengira bahwa berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu yang sepele, sedang kaki acapkali menjadi bengkak bila digunakan terus-menerus tiada henti? Apakah anda mengira bahwa berdiri tegak di atas kedua betis itu sesuatu yang mudah, sedang keduanya bisa saja tidak kuat dan suatu ketika patah?
  Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar kita masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang menggaggunya? Pernahkah anda merasa nista manakala dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar anda yang tidak bisa makan dan minum karena sakit?
  Coba perhatikan, betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan anda dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata anda yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit anda yang terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak anda yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan.
  Adakah anda ingin menukar mata anda dengan emas sebesar gunung Uhud, atau menjual pendengaran anda seharga perak satu bukit? Apakah anda mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah anda hingga anda bisu? Maukah anda menukar kedua tangan anda dengan untaian mutiara, sementara tangan anda buntung?
  Begitulah, sebenarnya anda berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempurnaan tubuh, tetapi anda tidak menyadarinya. Anda tetap merasa resah, suntuk, sedih, dan gelisah meskipun anda masih memiliki nasi hangat untuk disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat.
  Anda acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga andapun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa anda mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya anda masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagiaan, karunia, kenikmatan, dan sebagainya. Maka pikirkan semua itu, dan kemudian syukurilah!

Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Ad-Dzariyat : 21)

  Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan apa saja yang tersedia di sekeliling anda. Dan janganlah termasuk golongan

Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya. (QS. An-Nahl : 83)

Sumber : La Tahzan / Karya: Dr. ‘Aidh al-Qarni


Today is Yesterday, Tomorrow is Today

  Apa yang kita lihat pada diri kita saat ini, bisa jadi sebagian besar adalah pilihan kita sendiri, lebih tepatnya akumulasi dari seluruh pilihan kita pada masa lalu. Posisi kita dalam pekerjaan kita sekarang adalah hasil dari pilihan-pilihan hidup kita di masa lalu. Pendamping hidup kita adalah cerminan dari pilihan-pilihan kita di masa lalu. Mungkin, tabungan dan isi dompet kita saat ini pun bisa mewakili pilihan-pilihan yang kita buat semasa hidup di masa lalu. Semua skill kita pun adalah hasil dari pilihan-pilihan yang kita buat di masa lalu.
  Ketika kita melihat seseorang bisa membaca al-Qur’an dengan mahir dan baik, itu mencerminkan akan usahanya yang keras dalam belajar membaca al-Qur’an di masa lalu. Sama halnya ketika kita melihat seseorang yang sukses dalam materi, ini menandakan betapa banyak dan luas usaha yang telah dia lakukan dalam meraih posisi seperti itu, meskipun kita tidak menyaksikan secara langsung.
  Berdasarkan prinsip ini, tidak ada seorangpun manusia yang layak untuk dianggap ‘wah’ dan seolah ‘mengawang-awang’, tak mungkin bisa dikejar. Kebanyakan diantara manusia memandang hanya pada hasil akhir, tanpa memikirkan proses pilihan-pilihan apa saja yang telah dijalani untuk mencapai kondisi akhir tersebut. 
  Banyak mata terkesima ketika melihat video Maradona saat melewati pemain Inggris dan mencetak gol, seolah-olah itu adalah bakat langit yang diberikan kepadanya. Pada saat yang sama, mereka seolah-olah melupakan bahwa hasil akhir yang dicapai Maradona itu adalah hasil dari pilihan-pilihan yang dia buat pada masa lalu, dan selanjutnya melakukan pembenaran bahwa semua itu karena bakatnya yang luar biasa.
  Hidup adalah pilihan. Oleh karena itu, kita sesungguhnya dapat menilai seperti apa pilihan-pilihan yang dibuat pada masa lalu seseorang cukup dengan hanya melihat keadaannya sekarang.
  Kita juga dapat ‘melihat’ masa depan seseorang dari pilihan-pilihan yang dia buat saat ini. Keadaan di masa depan ditentukan oleh pilihan-pilihan yang kita buat saat ini.
  Sekali lagi, hidup adalah pilihan. Apa yang kita lihat pada diri kita hari ini, dan apa yang kita lihat pada diri orang lain hari ini adalah hasil dari pilihan-pilihan yang kita dan mereka buat di masa lalu. Keadaan hidup kita masa depan akan ditentukan oleh apa saja yang kita pilih saat ini. Sekarang pun, sebenarnya kita sedang menulis kisah hidup kita sendiri di sebuah buku yang mempunyai judul dengan nama kita sendiri, dan saat inipun kita sedang menuliskannya, setiap hari lembar demi lembar. Anehnya, terkadang kita melihat orang-orang yang tidak menyesuaikan pilihan hidupnya dengan yang dia inginkan. Muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga, sebuah slogan yang ngawur, yang tidak mungkin akan terjadi karena hidup adalah pilihan.
  Dengan memahami hal ini maka apabila seseorang menginginkan untuk menjadi seperti seseorang yang lain, dan mendapatkan apa yang ia inginkan, dengan mudah ia dapat melakukannya dengan cara mengubah setiap pilihan dalam hidupnya sesuai dengan pilihan orang yang dia inginkan untuk diikuti. Sesederhana itukah? Ya, memang sesederhana itu!
  Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang manusia yang sudah pasti masuk surga Allah, dan Rasulullah SAW memasukinya karena pilihan-pilihan yang beliau buat semasa hidupnya. Dengan kata lain, apabila kita mengikuti setiap pilihan yang dibuat Rasulullah SAW dalam menjalani hidupnya, maka sudah dapat dipastikan kita akan memasuki surga yang sama-sama dimasuki oleh Rasulullah SAW.

Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai. (HR. Bukhari)
  
  Rasulullah SAW memilih untuk memperjuangkan dakwah Islam dengan taruhan nyawa dan habisnya seluruh hartanya. Beliau SAW juga mencontohkan kepada kita bahwa beliau memilih untuk mendapatkan risiko dakwah yang menjadi pilihan hidupnya berupa lemparan batu, cekikan, pukulan, hinaan, dan percobaan pembunuhan daripada harus bergabung dalam sistem yang sama dengan kaum Quraisy jahiliyah. Beliau SAW juga memilih untuk menghabiskan seluruh waktunya untuk memikirkan ummat dan beribadah kepada Allah, walaupun jaminan surga telah ada untuknya. Beliau SAW memilih untuk banyak beristighfar, berdzikir dan bershadaqah di jalan Allah ketimbang memuaskan hawa nafsu. 
  Beliau SAW juga memilih menjadi sahabat yang paling setia, dan suami yang paling romantis selain seorang ahli strategi yang unggul. Semua pilihan yang dibuat Rasulullah SAW adalah pilihan yang istimewa dan menghantarkannya pada posisi di surga. Apabila kita mengikuti dan memilih setiap hal yang beliau SAW pilih, maka dipastikan kita pun berada di tempat yang sama sebagaimana tempat beliau SAW.
  Keadaan kita esok hari ditentukan oleh pilihan kita hari ini. Keadaan kita pada tahun depan juga merupakan hasil akumulatif dari pilihan-pilihan yang kita buat dari hari ini sampai sehari sebelum tahun depan. Sama halnya dengan tempat akhirat kita yang akan ditentukan oleh semua pilihan yang kita buat sebelum datangnya ajal.

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya...  (QS. Yunus : 26)

Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan... (QS. Yunus : 27)

  Seorang mukmin yang menginginkan surga Allah di akhirat kelak, tentu dia akan selalu menyesuaikan setiap perbuatan dan pilihannya di dunia agar selaras dengan perintah dan larangan Allah SWT. Dengan penuh kesadaran, setiap pilihan yang ia buat akan mendekatkan atau menjauhkannya dari surga Allah. Apabila seseorang justru tidak mau menyesuaikan seluruh perbuatannya dengan perintah dan larangan Allah maka sejatinya dia telah memilih tempat akhirat selain surga bagi dirinya sendiri.
  Kesungguhan dan keseriusan seseorang dalam mewujudkan keinginan masa depannya dapat dinilai dari pilihan-pilihan yang mereka buat pada saat ini. Kesungguhan adalah sebuah niat yang kuat dan tidak akan putus sebelum keinginannya tercapai. Keseriusan adalah melakukan aksi konkret yang relevan dengan besarnya keinginan. Apabila pilihan-pilihan yang dibuat adalah pilihan yang tidak berkorelasi dan tidak relevan dengan besarnya keinginan, maka kita dapat menyimpulkan bahwa orang ini tadak serius dan bersungguh-sungguh dalam mencapai keinginannya.
  Hidup adalah pilihan yang kita pilih dengan bebas. Tidak ada seorangpun yang bisa memaksa untuk memilihkan jalan hidup bagi kita. Kalaupun ada orang lain yang menentukan pilihan bagi kita, kita masih punya pilihan, apakah mau menuruti pilihan itu atau tidak? Pilihan hidup yang kita buat 100% dalam kendali kita. Memilih atau tidak memilih juga termasuk sebuah pilihan. Setiap saat kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harus kita tentukan.
  Banyak orang yang tidak suka keadaannya yang sekarang, mereka mengeluhkan kondisi ekonomi yang pas-pasan, keluarga yang berantakan, keahlian yang pas-pasan, jabatan yang tidak kunjung naik, dan keluhan lainnya. Namun sayang sekali, mereka hanya membatasinya sampai pada keluhan, tanpa menyadari bahwa semua yang mereka keluhkan adalah hasil pilihan mereka sendiri. Artinya, selama mereka tetap mengeluh akan keadaannya dan tidak berubah dan melakukan pilihan yang berbeda, maka hidupnya sudah dipastikan tetap dalam keadaan yang sama. Apabila kita ingin keadaan kita berubah, maka konsekuensinya adalah segera mengganti pilihan-pilihan hidup kita. Kita harus berubah.


Sumber : Beyond the Inspiration / Karya: Felix Y. Siauw 

Jumat, 04 Desember 2015

Sang Elang

  Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia. Umurnya bahkan bisa sampai 70 tahun. Tetapi untuk bisa merasakan umur sepanjang itu, seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke-40 tahun.
  Jarang yang tahu, ketika elang sudah berumur 40 tahun, ternyata cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya juga demikian, menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitkan elang ketika terbang. Pada saat itu elang hanya mempunyai 2 pilihan.
  Pilihan pertama, ia pasrah dengan keadaan dan kelemahannya itu. Pilihan kedua, ia berjuang untuk melalui suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan selama 150 hari. Pilihan pertama risikonya tentu saja ia akan menjadi mahluk lemah yang hidupnya tinggal menunggu kematian. Pilihan kedua, ia menjadi mahluk dengan kekuatan baru, sehingga mempunyai peluang untuk menjadi lebih kuat, lebih tangguh, dan hidup lebih lama lagi.
  Bagaimana elang mengalami proses transformasi itu? Sungguh penuh perjuangan. Elang harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama proses transformasi berlangsung. Pertama-tama elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya. Ia kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia pun mencabut satu persatu cakarnya. Dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Sebuah proses yang panjang dan sangat menyakitkan.
  Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Kini, elang mulai bisa terbang kembali. Dengan paruh, sayap, dan cakar yang baru, elang mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi. Dan sang elang itupun kini tak lagi bernama elang. Ia lebih dikenal sebagai burung rajawali.
  Seperti sang elang, begitu jugalah kehidupan manusia. Penuh dengan pilihan. Kita berhak memilih jadi orang baik atau buruk, pahlawan atau pecundang, sukses atau gagal. Kita diberi pilihan oleh Tuhan untuk menjadi super atau kuper, hero atau zero, something atau nothing.  Setiap pilihan mengandung risiko masing-masing. Ketika kita memutuskan memilih yang pertama, kita harus bersiap dengan kehidupan yang melelahkan, penuh perjuangan, sakit, dan kesiapan untuk pantang menyerah. Di dunia ini tak ada sukses yang diraih dengan gratis. Kita harus siap untuk membayar harga sebuah kesuksesan. Dan semua risiko itulah harganya.

Sumber : Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati / Karya: Ahmad Rifa’i Rif’an